Cerita Sex Dewasa – Sore itu, terik matahari di kota Semarang begitu menyengat. Di kamarnya yang ber-AC, seorang gadis bernama Dara, berusia 18 tahun, baru saja pulang dari kampus. Dara adalah mahasiswi semester pertama di sebuah universitas swasta. Tubuhnya semampai, dengan kulit putih mulus, dan rambut hitam sebahu yang selalu terlihat lembap karena keringat. Biarpun masih gadis, lekuk tubuh Dara sudah seperti gitar Spanyol. Pinggulnya sintal dan dadanya lumayan berisi, apalagi kalau cuma pakai kaus oblong tipis dan celana pendek. Semua itu bikin orang-orang, terutama cowok, suka curi-curi pandang ke dia. Saat ini dia cuma pakai kaus dan celana pendek, tiduran di sofa sambil main HP. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Tampak seorang pria tegap, usianya sekitar 40 tahun, masuk sambil tersenyum. Namanya Haris, papa tiri Dara. Dia baru setahun ini menikah dengan Mama Dara. Awalnya Dara canggung banget, tapi Papa Haris pintar ngambil hati. Dia bukan tipe papa tiri galak, tapi justru santai dan asik diajak ngobrol. “Duh, capek banget ya, Dek?” tanya Papa Haris, lalu duduk di kursi meja belajar. “Biasa, Pa. Dosen killer,” jawab Dara sambil terkekeh. “Udah makan, Pa?” “Udah tadi di kantor.” Papa Haris menatap Dara dengan pandangan aneh. Seperti ada sesuatu yang lain di balik tatapannya. “Pa, kenapa lihatin aku gitu amat?” Papa Haris hanya tertawa pelan. “Enggak, cuma mikir, cepat banget kamu gedenya.” Dara terdiam sebentar, lalu lanjut main HP. Papa Haris beranjak dari kursinya, mendekat, dan duduk di pinggir ranjang Dara. Suasana jadi hening. Tiba-tiba Papa Haris mengelus lembut rambut Dara. Awalnya Dara diam saja, tapi elusan itu perlahan turun ke punggungnya, lalu ke bahu. “Pa, geli,” ujar Dara sambil sedikit menjauh. “Sori, Dek.” Papa Haris tersenyum, tapi tangannya malah makin berani menyentuh pinggang Dara. Jantung Dara mulai berdebar kencang. Ini bukan sentuhan seorang papa ke anaknya. Sentuhan ini terasa lebih dalam, lebih intim. Dara bingung harus bagaimana. Dia ingin menolak, tapi mulutnya terasa kaku. Sebelum dia sempat berucap, Papa Haris menundukkan wajahnya, mengecup bibir Dara. Cup! Hanya sebuah kecupan singkat, tapi terasa membakar. Dara terpaku. Tubuhnya seakan tersengat listrik. Dia tidak membalas, tapi juga tidak menolak. “Papa ke kamar dulu ya, butuh istirahat,” bisik Papa Haris, lalu berdiri dan keluar dari kamar Dara. Dara masih terpaku di sofa. Kecupan itu terus terngiang di kepalanya. “Mungkin Papa enggak sengaja,” pikirnya, mencoba menenangkan diri. Tapi dia tahu, ini bukan kecupan tak sengaja. Ini adalah sebuah isyarat. Sebuah isyarat yang membingungkan, tapi di sisi lain, juga terasa memancing. Keesokan harinya, Dara berangkat ke kampus seperti biasa. Dia mencoba melupakan kejadian kemarin. Tapi, saat di kampus, pikirannya terus tertuju pada Papa Haris. Kecupan itu, sentuhannya, dan tatapannya yang aneh, semua berputar-putar di kepalanya. Dia jadi salah fokus saat presentasi di depan kelas. Siang hari, Dara pulang ke rumah. Seharusnya rumah sepi karena Papa Haris kerja dan Mama lagi pergi arisan. Tapi di depan pintu, ada sepatu Papa Haris. “Kok Papa udah pulang?” gumam Dara. Dia masuk dan menemukan Papa Haris sedang duduk di meja makan, membaca koran sambil ngopi. Dara langsung menghampiri dan duduk di depannya. “Pa, kenapa pulangnya cepat?” tanya Dara. “Perut Papa enggak enak, Vin… eh, Dek,” jawab Papa Haris sambil tersenyum canggung. Dara mengerutkan dahi. “Vina? Siapa tuh, Pa?” Papa Haris menggeleng. “Bukan siapa-siapa, salah sebut aja.” Padahal, Dara tahu. Vina itu nama mantan pacar Papa Haris waktu masih SMA dulu. Dara pernah enggak sengaja lihat di foto album lama milik Papa. Jantungnya berdegup makin kencang. Papa Haris memanggilnya dengan nama mantan kekasihnya, apa artinya? “Mau dibikinin teh hangat, Pa?” tanya Dara, mencoba mengalihkan pembicaraan. “Boleh,” jawab Papa Haris. Saat Dara berbalik menuju kompor, tiba-tiba Papa Haris memeluknya dari belakang. Jantung Dara makin kencang, tapi kali ini bukan karena kaget, melainkan karena sensasi yang membanjiri seluruh tubuhnya. Aroma tubuh Papa Haris, sentuhan tangannya yang memeluk pinggang Dara, semua terasa begitu kuat. “Pa, nanti Mama pulang,” bisik Dara, suaranya sedikit bergetar. “Mama lagi di luar kota, sayang,” bisik Papa Haris, suaranya terdengar serak. “Sama adik-adik kamu.” Oh, astaga. Dara melupakan itu. Mama dan adik-adiknya sedang liburan ke rumah nenek di luar kota. Jadi, mereka berdua saja di rumah. Papa Haris memutar tubuh Dara, lalu menekan tubuhnya ke arah kulkas. Keduanya jadi berhadapan, sangat dekat. Mata mereka saling bertemu. Tatapan Papa Haris begitu intens, penuh nafsu. Dara tidak bisa menolak. “Pa, jangan…” bisik Dara, suaranya nyaris tak terdengar. “Sstt…” Papa Haris menempelkan telunjuknya di bibir Dara, lalu bibirnya mendarat di leher Dara. Grrr… Dara menggigit bibir bawahnya. Ini gila. Ini salah. Tapi kenapa rasanya nikmat sekali? Lehernya yang polos, kini dikecup, dihisap, dan dicium oleh Papa Haris. Papa Haris menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dara. “Kamu wangi banget, Dek,” bisiknya. “Harumnya kayak bunga.” Tangan Papa Haris mulai masuk ke dalam kaus Dara, mengelus punggungnya, lalu naik ke pundak dan turun ke arah dadanya. Dara mendesah lirih, “Oh… Papa…” Lanjut bab dua: Cerita Dewasa Romantis Anak Dan Ayah Tiri Saat Ibunya Tidak Di Rumah CHAPTER DUA Papa Haris tersenyum, lalu mengangkat tubuh Dara, mendudukkannya di atas meja makan. Keduanya masih berciuman. Mulai dari ciuman-ciuman ringan, lalu menjadi ciuman yang lebih dalam. Papa Haris mengulum bibir Dara, lalu menjilatnya. Dara membalas dengan malu-malu, lalu mencoba memberanikan diri, memasukkan lidahnya ke mulut Papa Haris. Ciuman mereka makin panas, makin brutal. Tangan Papa Haris kini meremas payudara Dara. “Aahhh…” desah Dara saat remasan itu terasa semakin kencang. “Kamu suka, sayang?” bisik Papa Haris. Dara mengangguk pelan. “Suka…” Papa Haris terus mencium dan meremas. Tangan yang lain meraba paha Dara, lalu merangkak naik ke atas. Dara sedikit melenguh, “Mmmm…” Papa Haris menggerakkan jarinya di selangkangan Dara, mencari lubangnya. “Basah, Dek…” bisiknya, lalu tertawa pelan. Dara hanya bisa memejamkan mata. Tubuhnya panas. Wajahnya merah. Dia merasa malu, tapi kenikmatan yang ditawarkan Papa Haris membuatnya tak bisa menolak. “Pa… kita ke kamar aja,” bisik Dara. Papa Haris mengangguk. Dia menggendong Dara, membawanya ke kamar. Di kamar, Papa Haris menurunkan Dara di ranjang. Lalu dia membaringkan tubuh Dara, menindihnya. Mereka berciuman lagi, kali ini lebih ganas. Papa Haris melepaskan kaus Dara, lalu celana pendeknya. Dara kini telanjang. Wajahnya memerah. Papa Haris menatapnya dengan penuh nafsu. “Kamu cantik, sayang,” bisiknya. “Cantik banget.” Papa Haris mencium seluruh tubuh Dara. Mulai dari leher, dada, perut, hingga paha. Lidahnya menjilati setiap inci kulit Dara. Dara mendesah tak karuan. “Oohh… ohh… Pa…” Papa Haris kini berada di antara paha Dara. Dengan lembut, bibirnya mencium area sensitif itu. Dara terkejut, matanya terbelalak. Dia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Lidah Papa Haris kini menjilati lubang Dara, membuatnya bergetar hebat. Dara mengerang, “Aaaahhhh… Papa…” “Enak, sayang?” bisik Papa Haris. Dara mengangguk. “Enak banget…” Papa Haris makin lihai. Dia terus menjilati, membuat Dara merasa melayang-layang. Tiba-tiba tubuh Dara menegang. Dia mengejan. “Aaahhhh!” jeritnya. Cairan putih keluar dari lubangnya, membanjiri area itu. Papa Haris tersenyum puas. Dia lalu berdiri, melepaskan celananya. Dara melihatnya. Penis Papa Haris. Ukurannya besar dan panjang. Berurat. Dara menatapnya dengan pandangan takjub. Papa Haris mengarahkan penisnya ke mulut Dara. Dara tahu apa yang harus dia lakukan. Dia membuka mulutnya, lalu mengulum penis itu. “Oh… ahhh…” desah Papa Haris. Dara mengulumnya dengan lembut, lalu makin cepat. Dia memainkan lidahnya, dan sesekali menggigitnya pelan. Papa Haris mendesah kencang. “Terus, sayang… terus…” Dara mengangguk. Dia terus mengulum, hingga Papa Haris mendesah lagi, “Aaaahhh…” Papa Haris menghentikan Dara, lalu berbaring di atasnya. Dia mengangkat kaki Dara, melilitkannya di pinggangnya, lalu mencoba memasukkan penisnya. Dara terkejut, merasa kesakitan. “Aduh… sakit, Pa…” rintihnya. “Sabar, sayang… pelan-pelan,” bisik Papa Haris. Kepala penis Papa Haris mulai masuk. Sedikit-sedikit, hingga akhirnya masuk seluruhnya. Dara menjerit kecil. Sakit, tapi juga terasa nikmat. Papa Haris mulai mengayunkan pinggulnya, membuat penisnya keluar masuk dari lubang Dara. “Enak, sayang?” tanya Papa Haris. Dara mengangguk. “Enak… enak banget…” Papa Haris mempercepat ayunannya. Mereka berdua mendesah bersamaan. “Oohh… ahh… mmmm…” Mereka melakukannya dalam berbagai gaya. Mulai dari gaya misionaris, lalu Dara tengkurap. Papa Haris memasukinya dari belakang. Dara mendesah, “Aahhh… Papa… lebih cepat…” Papa Haris mempercepat lagi. Dia meremas payudara Dara, mencium punggungnya, lalu menjambak rambutnya pelan. Dara menjerit nikmat, “Aaaahhh!” Mereka mencapai puncaknya bersamaan. Papa Haris mengerang kencang. Dara menjerit dan mengejan lagi. Cairan hangat membanjiri lubang Dara. “Papa sayang kamu, Dek…” bisik Papa Haris, lalu mencium pipi Dara. Dara hanya tersenyum. Dia memeluk Papa Haris. “Aku juga, Pa.” Malam itu, mereka tertidur lelap, berpelukan. **Bagian 4: Ketagihan** Sejak hari itu, hubungan mereka makin intim. Dara dan Papa Haris terus melakukannya. Mereka jadi seperti sepasang kekasih rahasia. Seringkali, saat Mama dan adik-adiknya sedang di luar, mereka berdua akan memanfaatkan waktu untuk bercinta. Kadang, saat malam hari dan Mama sudah tidur, Papa Haris akan menyelinap ke kamar Dara. “Dek, Papa kangen,” bisiknya. Lalu mereka akan melakukan hubungan intim. Dara jadi ketagihan. Dia tidak bisa berhenti. Apalagi, Papa Haris juga terus memberinya perhatian dan kenikmatan. Mereka berdua seakan-akan terperangkap dalam sebuah labirin nafsu yang tak berujung. Suatu hari, saat sedang berdua di kamar, Papa Haris mencium Dara dengan lembut. “Dek, kamu tahu kan? Papa sayang banget sama kamu,” bisiknya. “Sebelum Papa nikah sama Mama, Papa udah suka sama kamu.” Dara terkejut. “Serius, Pa?” Papa Haris mengangguk. “Serius. Makanya, begitu ada kesempatan, Papa enggak mau sia-siain.” Dara tersenyum. Dia tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Tapi yang jelas, dia tidak bisa berhenti. Dia sudah terlalu jauh. Terlalu dalam. Dan dia tidak mau kembali. Papa Haris dan Dara terus menjalin hubungan terlarang itu, di bawah atap yang sama dengan Mama dan adik-adiknya. Mereka berdua tahu ini salah. Tapi mereka tak peduli. Bagi mereka, ini adalah sebuah rahasia yang indah, sebuah surga dunia yang hanya mereka berdua yang tahu. Dan Dara tahu, hubungannya dengan Papa Haris akan terus berlanjut. Karena dia ketagihan. Dan Papa Haris juga. Mereka berdua adalah sepasang kekasih terlarang, yang bersembunyi di balik status ayah dan anak tiri. Mereka tak peduli. Yang penting, mereka berdua bahagia. Dan itu saja yang penting.
Cerita Dewasa Romantis Anak Dan Ayah Tiri Saat Ibunya Tidak Di Rumah - Story
Hub Indobosku Mirror menghadirkan Cerita Dewasa Romantis Anak Dan Ayah Tiri Saat Ibunya Tidak Di Rumah dengan chapter penuh dan refresh rutin.
Lihat juga: Cerita Dewasa Terlarang Bercinta Dengan Sepupu, Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska, Cerita Dewasa Kakak Ipar Cantik Ngajak ML di Kamar Mandi.
Baca cerita lengkap gratis di Indobosku Mirror.
Info Download
Video akan tersedia untuk download setelah iklan dibuka.
Simpan Konten
Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.
Konten Serupa
Cerita Dewasa Terlarang Bercinta Dengan Sepupu | Story
Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska Chapter
Cerita Dewasa Kakak Ipar Cantik Ngajak ML di Kamar Mandi | Indobosku Mirror
Semangat Ngentot Mbak Sarah Kakak Kandung Temanku - Indobosku Mirror
Cerita Dewasa Hubungan Erotis Dengan Adik Iparku Si Siska Chapter
Nikmatnya Menembak Di Rahim Kakak Ipar Saat Dia Tidur | Story
Baca Gairah Tante Kandung Perawan Tua Agen Jamu Crot